HARI
RAYA NYEPI
Umat HINDU di
Bali melaksanakan hari raya Nyepi setiap satu tahun sekali. Hari raya Nyepi
jatuh pada penanggal apisan (hari pertama) sasih kedasa atau sehari setelah
tilem sasih kesanga.
Sehari sebelum hari raya Nyepi
(yaitu pada tilem Sasih Kesanga), umat Hindu melaksanakan upacara mebubu untuk membersihkan bhuana
Agung maupun bhuana Alit. Umat hindu akan melaksanakan pecaruan untuk
membersihkan bumi beserta isinya dari segala Bhuta Kala dan Kemaksiatan yang
ada. Pada sore harinya (Sandhy kala) akan diarak Ogoh-Ogoh keliling kota maupun
desa. Sebelum diarak ogoh-ogoh tersebut akan disembahyangkan terlebih dahulu
untuk diberikan roh agar ogoh-ogoh tersebut menjadi hidup. Orang yang mengarak
ogoh-ogoh tersebut juga harus disembahyangkan terlebih dahulu agar tidak bias
dimasuki oleh bhuta kala- bhuta kala. Orang
yang mengarak juga harus menggunakan kain poleng untuk mengikat kepala maupun
tangannya. Karena kain poleng tersebut merupakan perwujudan RWABHINEDA(baik
buruk). Warna putih menyimbulkan sifat
suci dan bersih, sedangkan warna hitam adalah symbol dari kegelapan dan
kejahatan yang selalu berdampingan dengan kebaikan. Ogoh-ogoh merupakan symbol
dari Bhuta kala yang biasanya berupa manusia ataupun raksasa yang menyeramkan
dengan taring-taring yang tajam dan panjang serta mata yang melotot dan lidah
yang menjulur panjang. Ogoh-ogoh
tersebut akan diarak dengan iringan gambelan beleganjur dan bobok(terbuat dari
bamboo yg diisi serabut kelapa dan myinak tanah lalu dibakar). Setelah sampai
di setra(kuburan orang hindu) atau di perbatasan desa, semua atribut (seperti :
kain poleng dan bobok) dilepas dan ditaruh di ogoh-ogohnya. Semua yang
mengaraknya akan dilukat agar tidak ada Bhuta kala yang masih ada dalam
raganya. Setelah itu ogoh-ogohnya pun akan disembahyangkan untuk menghilangakan
bhuta kala yang ada didalamnya. Setelah itu ogoh-ogoh akan dibakar sebagai
tanda bahwa bumi beserta isinya telah bersih dari Bhuta kala dan masyarakat
dapat memulai Tahun Baru Ḉaka pada keesokan harinya dengan perasaan yang
tentram.
HARI RAYA NYEPI:
Hari raya Nyepi
atau sepi umat Hindu akan melaksanakan CATUR BRATA PANYEPIAN yaitu,
1.
AMATI GENI: Tidak boleh menyalakan api, lampu,
maupun alat-alat elektronik lainnya
2.
AMATI KARYA: Tidak boleh bekerja
3.
AMATI LELUNGAN: Tidak boleh keluar dari
pekarangan rumah
4.
AMATI LELANGUAN: Tidak boleh berfoya-foya
Dengan
demikian maka seluruh umat Hindu akan berdiam diri dirumah dengan melakukan
puasa selama 24 jam dan melakukan meditasi dikamar. Selama perayaan Nyepi
otomatis jalan akan sepi, hanya ada Pecalang dan Hansip yang berjaga-jaga. Pada
malam harinya semua lampu akan dimatikan, jika ada yang menghidupkan lampu
tanpa surat izin akan dikenakan denda. Sehingga semua daerah akan terlihat
gelap gulita. Nyepi akan berakhir pada esok harinya jam 6 pagi dan umat Hindu
akan melaksanakan Ngembak Geni.
NGEMBAK GENI:
Ngembak geni
dilaksanakan sehari setelah hari raya Nyepi. Ngembak Geni dilaksanakan dengan
melaksanakan Dharma Santi ke sanak keluarga ataupun mengunjungi tempat-tempat
pariwisata. Biasanya Ngembak Geni dilaksanakan dengan hati yang bahagia karena
telah menang melawan Adharma dan memasuki tahun baru Ḉaka dengan selamat.
Dengan berakhirnya Ngembak geni bearti rangkaian hari raya Nyepi telah
berakhir.
Demikian artikel saya tentang
hari raya Nyepi, jika ada kesalahan saya mohon maaf.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar