Jayaprana
dan Layonsari
|
|
|
Beberapa tahun kemudian
|
Pada suatu hari raja menitahkan I Jayaprana, supaya memilih
seorang dayang-dayang yang ada di dalam istana atau gadis gadis yang ada di
luar istana. Mula-mula I Jayaprana menolak titah baginda, dengan alasan bahwa
dirinya masih kanak-kanak. Tetapi karena dipaksan oleh raja akhirnya I
Jayaprana menurutinya. Ia pun melancong ke pasar yang ada di depan istana
hendak melihat-lihat gadis yang lalu lalang pergi ke pasar. Tiba-tiba ia
melihat seorang gadis yang sangat cantik jelita. Gadis itu bernama Ni Layonsari,
putra Jero Bendesa, berasal dari Banjar Sekar.
Melihat gadis yang elok itu, I Jayaprana sangat terpikat
hatinya dan pandangan matanya terus membuntuti lenggang gadis itu ke pasar,
sebaliknya Ni Layonsari pun sangat hancur hatinya baru memandang pemuda ganteng
yang sedang duduk-duduk di depan istana. Setelah gadis itu menyelinap di balik
orang-orang yang ada di dalam pasar, maka I Jayaprana cepat-cepat kembali ke
istana hendak melapor kehadapan Sri Baginda Raja. Laporan I Jayaprana diterima
oleh baginda dan kemudian raja menulis sepucuk surat.
I Jayaprana dititahkan membawa sepucuk surat ke rumahnya Jero
Bendesa. Tiada diceritakan di tengah jalan, maka I Jayaprana tiba di rumahnya
Jero Bendesa. Ia menyerahkan surat yang dibawanya itu kepada Jero Bendesa
dengan hormatnya. Jero Bendesa menerima terus langsung dibacanya dalam hati.
Jero Bendesa sangat setuju apabila putrinya yaitu Ni Layonsari dikawinkan
dengan I Jayaprana. Setelah ia menyampaikan isi hatinya “setuju” kepada I
Jayaprana, lalu I Jayaprana memohon diri pulang kembali.
Di istana Raja sedang mengadakan sidang di pendopo. Tiba-tiba
datanglah I Jayaprana menghadap pesanan Jero Bendesa kehadapan Sri Baginda
Raja. Kemudian Raja mengumumkan pada sidang yang isinya antara lain: Bahwa
nanti pada hari Selasa Legi wuku Kuningan, raja akan membuat upacara
perkawinannya I Jayaprana dengan Ni Layonsari. Dari itu raja memerintahkan
kepada segenap perbekel, supaya mulai mendirikan bangunan-bangunan rumah,
balai-balai selengkapnya untuk I Jayaprana.
Menjelang hari perkawinannya semua bangunan-bangunan sudah
selesai dikerjakan dengan secara gotong royong semuanya serba indah. Kini tiba
hari upacara perkawinan I Jayaprana diiringi oleh masyarakat desanya, pergi ke
rumahnya Jero Bendesa, hendak memohon Ni Layonsari dengan alat upacara
selengkapnya. Sri Baginda Raja sedang duduk di atas singgasana dihadap oleh
para pegawai raja dan para perbekel baginda. Kemudian datanglah rombongan I
Jayaprana di depan istana. Kedua mempelai itu harus turun dari atas joli, terus
langsung menyembah kehadapan Sri Baginda Raja dengan hormatnya melihat wajah Ni
Layonsari, raja pun membisu tak dapat bersabda.
Setelah senja kedua mempelai itu lalu memohon diri akan
kembal ke rumahnya meninggalkan sidang di paseban. Sepeninggal mereka itu, Sri
Baginda lalu bersabda kepada para perbekel semuanya untuk meminta pertimbangan
caranya memperdayakan I Jayaprana supaya ia mati. Istrinya yaitu Ni Layonsari
supaya masuk ke istana dijadikan permaisuri baginda. Dikatakan apabila Ni
Layonsari tidak dapat diperistri maka baginda akan mangkat karena kesedihan.
Mendengar sabda itu salah seorang perbekel lalu tampak ke
depan hendak mengetengahkan pertimbangan, yang isinya antara lain: agar Sri
Paduka Raja menitahkan I Jayaprana bersama rombongan pergi ke Celuk Terima,
untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo menembak binatang
yang ada di kawasan pengulan. Demikian isi pertimbangan salah seorang perbekel
yang bernama I Saunggaling, yang telah disepakati oleh Sang Raja. Sekarang
tersebutlah I Jayaprana yang sangat brebahagia hidupnya bersama istrinya.
Tetapi baru tujuh hari lamanya mereka berbulan madu, datanglah seorang utusan
raja ke rumahnya, yang maksudnya memanggil I Jayaprana supaya menghadap ke
paseban. I Jayaprana segera pergi ke paseban menghadap Sri Paduka Raja bersama
perbekel sekalian. Di paseban mereka dititahkan supaya besok pagi-pagi ke Celuk
Terima untuk menyelidiki adanya perahu kandas dan kekacauan-kekacauan lainnya.
Setelah senja, sidang pun bubar. I Jayaprana pulang kembali ia disambut oleh
istrinya yang sangat dicintainya itu. I Jayaprana menerangkan hasil-hasil rapat
di paseban kepada istrinya.
Hari sudah malam Ni Layonsari bermimpi, rumahnya dihanyutkan
banjir besar, ia pun bangkit dari tempat tidurnya seraya menerangkan isi
impiannya yang sangat mengerikan itu kepada I Jayaprana. Ia meminta agar
keberangkatannya besok dibatalkan berdasarkan alamat-alamat impiannya. Tetapi I
Jayaprana tidak berani menolak perintah raja. Dikatakan bahwa kematian itu
terletak di tangan Tuhan Yang Maha Esa.Walaupun MAGEDONG
BATU(di
rumah mewah) kalau sudah waktunya pasti akan mati. Pagi-pagi I Jayaprana
bersama rombongan berangkat ke Celuk Terima, meninggalkan Ni Layonsari di
rumahnya dalam kesedihan. Dalam perjalanan rombongan itu, I Jayaprana sering
kali mendapat alamat yang buruk-buruk. Akhirnya mereka tiba di hutan Celuk
Terima. I Jayaprana sudah merasa dirinya akan dibinasakan kemudian I
Saunggaling berkata kepada I Jayaprana sambil menyerahkan sepucuk surat. I
Jayaprana menerima surat itu terus langsung dibaca dalam hati isinya:
“ Hai engkau
Jayaprana
Manusia tiada berguna
Berjalan berjalanlah engkau
Akulah menyuruh membunuh kau
Manusia tiada berguna
Berjalan berjalanlah engkau
Akulah menyuruh membunuh kau
Dosamu sangat besar
Kau melampaui tingkah raja
Istrimu sungguh milik orang besar
Kuambil kujadikan istri raja
Kau melampaui tingkah raja
Istrimu sungguh milik orang besar
Kuambil kujadikan istri raja
Serahkanlah jiwamu
sekarang
Jangan engkau melawan
Layonsari jangan kau kenang
Kuperistri hingga akhir jaman.”
Jangan engkau melawan
Layonsari jangan kau kenang
Kuperistri hingga akhir jaman.”
Demikianlah isi surat Sri Baginda Raja kepada I Jayaprana.
Setelah I Jayaprana membaca surat itu lalu ia pun menangis tersedu-sedu sambil
meratap. “Yah, oleh karena sudah dari titah baginda, hamba tiada menolak.
Sungguh semula baginda menanam dan memelihara hamba tetapi kini baginda ingin
mencabutnya, yah silakan. Hamba rela dibunuh demi kepentingan baginda, meski
pun hamba tiada berdosa. Demikian ratapnya I Jayaprana seraya mencucurkan air
mata. Selanjutnya I Jayaprana meminta kepada I Saunggaling supaya segera
bersiap-siap menikamnya. Setelah I Saunggaling mempermaklumkan kepada I
Jayaprana bahwa ia menuruti apa yang dititahkan oleh raja dengan hati yang
berat dan sedih ia menancapkan kerisnya pada lambung kirinya I Jayaprana. Darah
menyembur harum semerbak baunya bersamaan dengan alamat yang aneh-aneh di
angkasa dan di bumi seperti: gempa bumi, angin topan, hujan bunga, teja
membangun dan sebagainya.
|
NIKI CERITA ASLI BULELENG BALI
MAGENAH RING DESA KALIANGET KECAMATAN
BANJAR
|
Sekarang di Teluk Terima(Buleleng Bali) berdiri pura
Jayaprana Layonsari. Yang diyakini sebagai tempat berstananya I Nyoman
Jayaprana ( yg mendapat gelar IDA BHATARA SAKTI WAWU RAUH). Seluruh umat HINDU
selalu mengunjungi pura ini untuk meminta berkah agar keinginannya cepat
terkabul seperti meminta anak, cepat bekerja dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar